menuj Terjemahan Kitab Minhatul Mughits | Khatimah (Part 53) - Pena Teungku //
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Terjemahan Kitab Minhatul Mughits | Khatimah (Part 53)


 الخاتمة

طرق تحمل الحديث ثمانية وتتبعها صيغ الاداء

الاول من طرق التحمل السماع من لفظ الشيخ املاه او غيره ويقول عند الاداء سمعت او حدثنى 

الثانى القراءة على الشيخ سوآء قرأ هو على الشيخ او قرأ غيره عليه وهو يسمع ويقول القارئ وحده على الشيخ أخبرنى  او قرأت عليه او انبأنى ويقول من سمع بقراءة غيره قرئ عليه وانا اسمع

(Penutup)

Cara penerimaan hadits ada delapan, yang akan disertai oleh lafai menunai hadits.

1. Melalui cara tahammul (penerimaan) mendengar langsung lafad hadits yang di dekte oleh seorang guru atau selainya, kemudian perawi tersebut berkata "aku mendengar hadits" atau "telah memberi hadits kepadaku". 

2. Membaca dihadapan guru, adakala ia sendiri yang membacanya atau orang lain sedangkan ia hanya mendengarkan.

Perawi yang membaca hadits langsung dihadapan gurunya, saat ia meriwayatkan hadits ia menggunakan lafad :

- أخبرنى "telah memberi hadits kepadaku"

قرأت عليه "aku bacakan hadits dihadapanya"

انبأنى "telah memberitahu kepadaku"

Perawi yang mendengar perawi lain yang membacakan haditst, maka saat ia meriwayatkan hadits ia menggunakan lafad :

قرئ عليه وانا اسمع "ia membacakan hadits dihadapan guru, sedangkan aku mendengarkannya"

الثالث الاجازة الخاصة المعينة وشروطها ان يكون المجيز عالما بما فى الكتاب والمجاز له فهما ضابطا والا بطلت ويقول من اجيز له اجازة متلفظا بها شافهنى

3. Ijazah yang khusus lagi yang tertentu, syarat-syaratnya adalah orang yang memberi ijazah harus mengetahui isi kitab, sedangkan orang yang diberi ijazah harus faham dan bisa dhabith (menghafal), jika tidak seperti itu maka tidak sah ijazah tersebut, dan orang yang diberi ijazah mengatakan saat meriwayatkan hadits شافهنى "telah berbicara langsung kepadaku"

الرابع المناولة ويشترط اقترانها بالاذن وصورتها ان يدفع الشيخ اصله او ما قام مقامه من فرع مقابل به مملكا او معيرا او يحضر الطالب اصل نفسه او الفرع المقابل به فيتأمله الشيخ ثم يناوله ايا كان منها قاءلا هذه روايتى عن فلان فاروه عنى ٠ ويقول عند الاداء ناوانى٠

4. Munawalah disyaratkan menyertainya munawalah dengan izin, gambaran munawalah adalah menyerahkan oleh seorang guru sebuah naskah asli hadits atau naskah dalam bentuk foto copy untuk seorang murid diberikan atau dipinjamkan, atau seorang murid membawa naskah aslinya atau naskah dalam bentuk foto copy untuk ditelusuri oleh seorang guru, kemudian seorang guru menyerahkan riwayat tersebut seraya berkata "ini riwayatku, maka riwayatkanlah dariku" dan seorang perawi itu berkata diketika meriwayatkan hadits " seseorang  telah menyerahkan kepadaku"

الخامس المكاتبة وهى ان يكتب الشىخ شيئا من حديثه بنفسه او بغيره باذنه الى غائب عنه او حاضر عنده ولا يشترط الاذن بالرواية فيها على الصحيح ويقول عند الاداء كتب الى

5. Mukatabah yaitu menulis seorang guru beberapa hadits baik menulis sendiri atau menyuruh orang lain atas izinya kepada orang yang tidak ada ditempat atau orang yang berada bersamanya, dan tidak disyaratkan izin dalam meriwayatkan pada mukatabah ini menurut pendapat yang kuat, kemudian jika ingin meriwayatkan hadits seorang perawi harus berkata "seseorang telah menulis kepadaku".

السادس الوجادة وهى ان يجد بخط يعرف كاتبه ما لم يأخذه عنه بسماع ولا قرائة ولا غيرهما ويقول عند الاداء وجدت بخط فلان ثم يسوق الاسناد والمتن

6. Wijadah yaitu memperoleh sebuah tulisan hadits yang dikenal penulisnya, namun ia tidak mengambil hadits darinya baik dengan mendengar atau membaca atau selain keduanya, seorang perawi berkata saat meriwayatkan hadits, "aku menemukan tulisan seseorang" kemudian perawi menyebutkan sanad dan matannya (sesuai seperti apa yang tertulis).

السابع الوصية بالكتاب وهى ان يوصى عند موته او سفره لشخص معين باصله او اصوله ويقول عند الاداء اوصى الى فلان بكتاب قال فيه حدثنا الى آخره

7. Washiat bil Kitab yaitu berwasiat seseorang ketika menjelang kematiannya, atau saat hendak melakukan perjalan, kepada seseorang tertentu dengan satu naskah asli hadits beberapa naskah, kemudian seorang perawi berkata saat meriwayatkan hadits "telah berwasiat kepadaku oleh seseorang dalam sebuah kitab, dimana ia mengatakan "telah memberi hadits kepadaku, hingga akhirnya"

الثامن الاعلام وهو ان يعلم احد الطلبة بانى اروى الكتاب الفلانى عن فلان لكن يشترط الاذن بالرواية فيه وفى الوصية على الاصح والا فلا عبرة بهما ويقول عند الاداء اعلمنى فلان قال حدثنا الى اخره

8. I'lam yaitu memberitahu seorang guru kepada salah satu murid, bahwa saya meriwayatkan kitab dari si fulan, tetapi disyaratkan izin untuk meriwayatkan, begitu juga pada hadits yang diperoleh dari wasiat menurut pendapat yang kuat, dan seporang perawi disaat meriwayatkan hadits ia berkata "telah memberitahu kepadaku oleh seseorang, ia berkata telah memberi hadits kepada kamu, hingga akhirnya"

فائدة انبأنى وعن ونحوهما مما يحتمل لذاته السماع وعدمه والاجازة وعدمها كقال وذكر وروى مثل شفاهنى وكتب الى عند المتأخرين واما الطبقة المتوسطة بين المتقدمين والمتأخرين فكانوا لا يذكرون الانباء الا مقيدا بالاجازة

(Ini suatu faedah)

Riwayat dengan memakai kata-kata انبأنى atau عن dan seumpanya, itu boleh jadi hasil dari mendengar atau tidak, juga boleh jadi memperoleh ijazah atau tidak, sama seperti lafad قال, kemudian lafad ذكر dan روى  itu sama seperti شفاهنى dan كتب الى menurut ulama mutakhirin, adapun tingkatan yang berada pada posisi tengah diantara mutaqaddimin dan mutaakhirin, maka mereka hanya menggunakan lafadh الانباء yaitu (انبأنى) dalam persoalan ijazah saja.

Baca Sebelumnya : Part 52

Baca Lanjutannya : Part 54

Link Lengkap : Terjemahan Minhatul Mughits

Post a Comment for "Terjemahan Kitab Minhatul Mughits | Khatimah (Part 53) "